Home Sejarah Kerajaan Surosowan Banten

Kerajaan Surosowan Banten

by asperwi1

Asperwi – Berdiri dan dibangun dengan kata “Gawe Kuta Baluwarti Bata Kalawan Kawis” yang arti bebasnya adalah “Membangun kota dan perbentengan dari bata dan karang”. Takluknya Prabu Pucuk Umun di Wahanten Girang (sekarang di kenal dengan daerah Banten Girang di Kecamatan Cipocok Jaya Kota Serang – Wahanten Girang merupakan bagian wilayah dari Kerajaan Padjadjaran yang berpusat di Pakuan – sekarang di kenal dengan wilayah Pakuan Bogor) pada tahun 1525 selanjutnya menjadi tonggak dimulainya era Banten sebagai Kesultanan Banten dengan dipindahkannya Pusat Pemerintahan Banten dari daerah Pedalaman ke daerah Pesisir pada tanggal 1 Muharam 933 Hijriah yang bertepatan dengan tanggal 8 Oktober 1526 (Microb dan Chudari, 1993:61

Keraton Surosowan merupakan pusat pemerintahan Kesultanan Banten yang dibangun pada masa pemerintahan Maulana Hasanuddin Banten pada tahun 1552 sampai dengan 1570. Keraton Surosowan Banten merupakan peninggalan Kerajaan Banten yang terletak di Desa Banten, Kecamatan Kasemen Kota Serang.


Keraton Surosowan Banten merupakan pembangunan Kota Banten sebagai negara Kota, sekaligus Kota Bandar dilakukan sejak Maulana Hasanuddin, Maulana Yusuf dan mencapai puncaknya pada masa Sultan Ageng Tirtayasa.
Kebesaran kesultanan Banten pada masa itu ditunjang oleh beberapa faktor seperti letak geografis yang strategis, kondisi lingkungan yang menguntungkan, struktur masyarakat dan pemerintahan yang kuat.

Dikutip dari jurnal “Peranan dan Perkembangan Keraton Surosowan” yang ditulis oleh Siti Almaratu Diniyah, “Keraton Surosowan dibangun pada abad ke 17 (1552-1570) merupakan bangunan yang memegang peranan sangat penting bagi sebuah kerajaan. Keraton Surosowan juga memiliki makna ganda, yakni sebagai bangunan tempat tinggal sultan dan keluarganya serta perangkat kerajaan lainnya, dan sebagai pusat kerajaan Banten.”
Sebagai pendiri Keraton Surosowan, Sultan Maulana Hasanuddin mendapat pemerintahan dari Ayahnya Sultan Gunung Jati, yang telah berhasil merebut Banten bersama pasukan Demak.
Keraton Surosowan ini bermula pada saat Sultan Gunung Jati, yang berhasil merebut Banten bersama pasukan dari Demak, lalu menyerahkan pemerintahan kepada putranya, Maulana Hasanuddin.
Keraton Surosowan dulunya sebagai tempat tinggal Sultan beserta keluarga dan pengikutnya. Bangunan ini juga berfungsi sebagai pusat Kerajaan dalam menjalankan pemerintahan.

Bangunan Keraton Surosowan dibangun dengan empat tahap,
yang pertama
dinding dibangun mengelilingi keraton dengan susunan bata yang berukuran 100-125 meter.

Tahap yang kedua,
bangunan dinding bagian dalam dibangun dengan fungsi sebagai penahan dari tembakan dan bastion. Bastion atau bulwark merupakan truktur yang menonjol keluar dari dinding tirai suatu benteng, paling sering berbentuk sudut dan ditempatkan di sudut benteng.(sudut bastion berbentuk intan).

Tahap yang ketiga,
pendirian ruang dan penambahan lantai untuk mencapai dinding penahanan.

Pada tahap keempat ini, adanya perubahan pada gerbang Utara dan gerbang Timur.

Beberapakali Keraton Surosowan mengalami penghancuran selama pemerintahannya. Adanya peperangan yang terjadi pada 1680, perang antara Sultan Ageng Tirtayasa dan Sultan Haji. Setelah Sultan Haji menang dan berhasil naik tahta yang dibantu oleh Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC), Keraton Surosowan kemudian diperbaiki. Sultan Haji kemudian membangun kembali Keraton Surosowan, dengan dibantu oleh arsitek Belanda yang bernama Hendrik Laurenzns Cardeel, yang dimintanya untuk membangun kembali keraton.
Atas apa yang telah dilakukannya, Laurenzns Cardeel kemudian ia masuk Islam dan diberi gelar Pangeran Wiraguna oleh Sultan.


Lalu pada tahun 1808, Keraton dihancurkan pasukan Belanda yang dipimpin oleh Gubernur Jenderal Herman William Daendels. Dimana pihak Kesultanan Banten menolak permintaan Belanda, yang dimana harus mengirimkan 1000 orang setiap hari untuk dipekerjakan di Ujung Kulon dan menyerahkan Pati Mangkubumi ke Batavia serta Sultan Hasanuddin harus memindahkan Keraton nya ke Anyer.

Bangunan Keraton Surosowan sebagian besar telah tertanam dalam tanah. Saat ini sisa-sisa bangunan yang dapat dilihat antara lain tembok keliling, pondasi bangunan, struktur lantai, saluran air, dan kolam pemandian.

Sedangkan pada bagian utara dan selatan adalah 100 meter, adapun luas keseluruhan yang dibentengi adalah sekitar 3 hektar, pada setiap sudut benteng terdapat Bastion yang berbentuk intan, dan ditengah dinding utara dan selatan berbentuk setengah lingkaran.

Keraton Surosowan memiliki tiga buah gerbang masuk, yang masing-masing terletak di sisi timur, utara dan selatan. Akan tetapi, pintu yang ada disebelah selatan telah ditutup dengan tembok yang belum diketahui apa sebabnya. Pada pertengahan Keraton Surosowan terdapat sebuah kolam yang berisi air berwarna hijau, yang sudah dipenuhi ganggang dan lumut. Didalam keraton ini juga terdapat banyak ruangan yang berhubungan dengan air atau ritual mandi (petiratan). Slah satu bangunan yang terkenal adalah bekas kolah taman, yang bernama Bale Kambang Rara Denok dan ada juga panvuran untuk mandi biasa yang dinamakan “pancuran mas”. Kolam Rara Denok berbentuk persegi empat dengan lebar 13 meter, dengan panjang 30 meter serta kedalaman kolam 4,5 meter. Ada dua sumber air di Surosowan yaitu sumur dan Danau Tasik kardi yang terletak sekitar dua kilometer dari Surosowan.

Pembangunan fase ketiga adalah tahap pendirian kamar kamar disepanjang dinding utara, dan penambahan lantai untuk mencapai dinding penahan tembakan.

Pada pembangunan fase keempat dilakukan perubahan pada gerbang utara dan juga pada gerbang timur, pada lapisan luar dinding keraton susunan bata dilapis secara merata dengan menggunakan batu karang.
Pada fase pembangunan yang terakhir terjadi penambahan banyak kamar dibagian dalam dan penyempurnaan isian dinding.
Dari sumber buku mihrob tahun 1993 keraton Surosowan mengalami beberapa kali penghancuran. Kehancuran yang pertama terjadi pada tahun 1680.
Adapun kehancuran yang kedua adalah merupakan kehancuran yang terparah yang terjadi pada tahun 1813 ketika Gubernur Jenderal Belanda memerintahkan penghancuran keraton Surosowan. Setelah peristiwa penghancuran tersebut akhirnya Keraton Surosowan ditinggalkan oleh para penghuninya.

Related Articles

Leave a Comment

-
00:00
00:00
Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00